Banyak orang mengira kunci menang lomba video ada di ide yang brilian atau kamera yang mahal. Dari pengalaman kami meraih Juara 2 Festival Film SOS x Narasi, ada hal yang jauh lebih menentukan, dan sering terlupakan sebelum lomba dimulai: siapa saja yang benar-benar berkomitmen menyelesaikannya bersama Anda.

Lomba Tidak Punya Klien

Saat mengerjakan proyek klien, ada brief, kontrak, dan tenggat yang mengikat semua orang. Ada pihak yang menunggu hasilnya, jadi pekerjaan hampir pasti selesai.

Lomba berbeda. Tidak ada kontrak, tidak ada klien yang menagih. Tim lomba biasanya terbentuk dari teman, kenalan, atau rekan sesama pelaku industri kreatif. Hubungannya cair, dan di situlah masalahnya: tidak ada tekanan dari luar yang memastikan karya itu selesai.

Kerugian yang Jarang Dibicarakan

Kerugian terbesar dalam lomba bukan kalah. Kerugian terbesarnya adalah tidak pernah submit sama sekali.

Banyak tim sudah menghabiskan waktu untuk memikirkan konsep, mencari lokasi, dan menyusun rencana di pra-produksi. Sebagian bahkan sudah sampai produksi, lalu proyeknya berhenti di tengah jalan saat pasca-produksi. Footage tersimpan di hard disk, tenggat lewat, dan semua tenaga yang sudah dikeluarkan tidak menghasilkan apa-apa.

Penyebabnya hampir selalu sama: sejak awal tidak ada kesepakatan yang jelas tentang siapa mengerjakan apa, dan sampai kapan.

Cari Orangnya Dulu, Baru Lombanya

Karena itu, saran pertama kami sederhana: sebelum menentukan lomba yang ingin diikuti, pastikan dulu Anda punya orang-orang yang siap berkomitmen sampai karya itu dikirim.

Beberapa hal yang membantu kami:

  1. Sepakati komitmen di awal. Tanyakan terang-terangan: siapa yang sanggup ikut sampai tahap submit, bukan hanya sampai syuting?
  2. Bagi peran dengan jelas. Tentukan siapa yang memegang konsep, produksi, dan editing, supaya pasca-produksi tidak bergantung pada niat baik saja.
  3. Buat tenggat sendiri. Pasang batas waktu internal yang lebih awal dari tenggat lomba, misalnya draft edit selesai seminggu sebelum batas pengumpulan.
  4. Sepakati kredit dan pembagian hadiah. Bicarakan sejak awal bagaimana nama tiap orang dicantumkan dan bagaimana hadiah dibagi jika menang. Hal yang tidak dibicarakan di awal sering jadi masalah di akhir.
  5. Perlakukan lomba seperti proyek klien. Anggap juri sebagai klien dan tenggat lomba sebagai deadline yang tidak bisa ditawar.

Karya yang Selesai Lebih Berharga

Karya yang tidak sempurna tapi selesai selalu lebih berharga daripada karya brilian yang mangkrak. Karya yang selesai bisa dinilai juri, masuk portofolio, dan menjadi bahan belajar untuk karya berikutnya.

Bagi kami, lomba bukan hanya soal juara. Lomba adalah latihan bekerja sebagai tim, dan kebiasaan itu yang kami bawa ke setiap proyek klien Karyatera hari ini.

Punya ide video untuk lomba atau brand Anda? Kami siap mendengarkan.